Bagi gua, belajar nulis itu veri simple...

Jumat, 07 Maret 2014

Posted by Mafaza Media in | 07.50 2 comments


Kebanyakan penulis pasti sangat senang dan bangga bila buku mereka dijual di toko buku besar seperti Gramedia, Gunung Agung, dan sebagainya. Seorang teman penulis pemula misalnya, baru-baru ini berkomentar di sebuah wall Facebook:

“Wah, pasti bangga banget ya, jika buku saya bisa dipajang di Gramedia.”

Memang betul. Pasti ada kebanggaan tersendiri bila buku kita dipajang di toko buku terkenal dan besar seperti Gramedia. Orang-orang pun lebih mudah mendapatkan buku kita, sebab mereka tinggal datang ke toko buku terdekat.

Tapi apakah kebanggaan seperti itu saja sudah cukup?

Untuk menjawabnnya, mari kita lihat sejumlah fakta berikut:

(1) Jika si penulis rajin berpromosi, sudah sering terbukti bahwa penjualan langsung oleh penulisnya (secara online) seringkali jauh lebih berhasil ketimbang penjualan di toko buku.

Salah satu contohnya adalah buku Bunda of Arabia yang terjual 800 eksemplar dalam waktu kurang dari 1 bulan, padahal hanya dipasarkan secara online. Rahasia suksesnya: Para penulis yang tergabung di buku antologi ini sangat gencar dalam berpromosi.

Contoh lainnya adalah buku Gerbong Kehidupan karya mbak Diah Kusumawati. Hanya dalam hitungan 10 hari, bukunya sudah laku terjual sebanyak hampir 300 eksemplar. Padahal (lagi-lagi) hanya dipasarkan lewat online dan promosi dari mulut ke mulut.

Pak Arvan Pradiansyah yang buku-bukunya selalu best seller pun, baru-baru ini bercerita pada saya, bahwa buku terbarunya – I Love Monday – lebih banyak dibeli secara online ketimbang di Gramedia.

Saya juga mengalami hal yang sama. Penjualan buku saya – Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat – di Gramedia tak terlalu berhasil. Tapi jualan secara online alhamdulillah selalu ramai

(2) Jika buku kita dijual di toko buku nasional, maka bagi hasil yang kita terima relatif lebih sedikit, karena pihak toko buku dan distributor mendapat bagi hasil 50-55% dari harga jual buku.

Untuk lebih jelasnya, coba deh kita hitung:
Katakanlah biaya cetak buku Anda Rp 10.000(*) pereksemplar. Harga jual Rp 48.000
Bila dijual secara online oleh Anda sendiri, maka Anda bisa mendapat keuntungan Rp 38.000 pereksemplar buku.

Bila buku tersebut dijual di Gramedia, maka 55% dari hasil penjualan sudah menjadi hak distributor (termasuk toko buku Gramedia).

Artinya
- Bagi hasil distributor = 55% X Rp 48.000 = Rp 26.400
- Biaya cetak = Rp 10.000
- Sisa buat Anda = Rp 48.000 – (Rp 26.400 + Rp 10.000) = Rp 11.600 pereksemplar buku.
Dari hitung-hitungan di atas, Anda pasti bisa membandingkan, mana yang hasilnya lebih besar, bukan?

NB:
(*) Ini hanya angka ilustasi, bukan angka riil. Sebab biaya percetakan buku itu sangat relatif, tergantung banyak hal.

(3) Jika buku Anda ternyata kurang laku, maka ia akan DIGUSUR KE GUDANG, tidak tersedia lagi di rak toko.

Mengapa? Karena toko buku seperti Gramedia tentu berpikir secara bisnis. Mereka tentu merasa rugi untuk memajang buku yang terbukti tidak laku. Lebih baik rak buku mereka diisi dengan buku lain yang lebih laku.
Maka akibatnya: Buku Anda yang masih banyak stoknya tersebut pun hampir tak bisa lagi dijual. Bagaimana mungkin, buku yang tersimpan di gudang bisa dijual?

Bila kondisi seperti ini terjadi, tentu akan melahirkan DILEMA BESAR bagi penulis:
Di satu sisi Anda ingin agar sisa stok buku tersebut bisa terjual sesegera mungkin, karena modal Anda “tersimpan” di lembar-lembar kertasnya.

Tapi di sisi lain, keberadaannya di gudang membuat buku-buku tersebut sulit untuk terjual. Anda memang bisa saja meminta si toko buku untuk menariknya lalu diserahkan kepada Anda. Tapi untuk menarik buku dan menyerahkannya kepada si penulis (atau penerbit), biasanya butuh biaya khusus yang jumlahnya tidak sedikit.

Jika demikian kondisinya, bagaimana cara agar modal Anda yang tersimpan pada lembar-lembar buku tersebut bisa segera berubah menjadi lembar-lembar uang? Terus terang, caranya tidaklah terlalu mudah 
* * *

Nah, demikianlah beberapa fakta tentang penjualan buku di toko buku.

Jadi Teman-teman Sekalian:
Berhentilah berpikir soal rasa bangga atau gengsi semata. Sebab gengsi dan rasa bangga tak bisa dimakan, tak bisa menghasilkan uang. Padahal untuk menerbitkan buku secara self publishing, Anda pasti sudah berinvestasi yang banyak untuk mencetak buku tersebut, bukan?

Jadi Bagaimana Solusinya?
Penulis yang smart (yang baginya gengsi dan rasa bangga tidak terlalu penting) akan berpikir dengan cerdas dan kreatif. Dia sadar betul, bahwa dia sudah mengeluarkan modal yang besar untuk menerbitkan buku. Karena itu dia berpikir seperti seorang pebisnis:

“Saya akan menjual buku saya dengan cara apapun yang memungkinkan buku saya bisa terjual dengan mudah dan cepat, sehingga modal saya cepat kembali.”

Tentu tak masalah bila Anda memutuskan untuk menjual buku Anda di toko buku Gramedia se-Indonesia. Keputusan tentu di tangan Anda.

Tapi setelah membaca penjelasan di atas, saya yakin Anda sekarang mulai berpikir:
“Jika saya memutuskan untuk menjual buku saya di toko buku Gramedia se-Indonesia, maka saya pun HARUS SIAP UNTUK BEKERJA KERAS, agar seluruh buku tersebut bisa laris manis DALAM WAKTU KURANG DARI 2 BULAN, agar tidak sampai digusur ke gudang.”

Adapun jika:
- Anda belum siap untuk bekerja keras seperti yang tertulis di atas
- atau jika modal Anda untuk menerbitkan buku belum terlalu besar
- atau jika Anda belum yakin akan laris tidaknya buku Anda
maka saran saya: Lupakan dulu rasa bangga dan gengsi tersebut. Sebab sekali lagi, gengsi dan rasa bangga tak bisa dimakan 

Seperti yang saya jelaskan di atas, bukankah sudah banyak bukti tentang penulis yang bukunya laris manis, padahal hanya dijual secara online?

Bila setelah penjualan online ternyata terbukti bahwa buku Anda laris manis, disambut secara luar biasa oleh masyarakat….. Barulah Anda dengan PENUH KEYAKINAN bisa mencetak buku tersebut dalam jumlah besar, lalu mengedarkannya ke toko buku nasional se-Indonesia. Ada penerbitan indie yang murah. Mafaza Media adalah namanya. Mulai dari 50ribu, kamu sudah bisa nerbitkan bukumu.
Semoga bermanfaat. Salam Sukses Selalu!

Kamis, 06 Maret 2014

Posted by Mafaza Media in | 07.43 3 comments


Tips Penerbitan: Memilih Penerbit Indie
Saat ini menerbitkan buku bukanlah sebuah hal yang sulit. Ada banyak penerbitan indie yang dengan mudah ditemui. Mulai dari layanan self publishing miliknya nulisbuku.com, dapurbuku.com bahkan mizan pun memiliki layanan jenis ini.

Kemudian saat ini semakin banyak orang yang membuka usaha penerbitan yang menawarkan penerbitan indie. Dimana setiap naskah yang masuk bisa dibukukan. Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan. Namun pada prinsipnya sebagian besar layanan yang diberikan hampir sama mulai dari desain, layout, editing naskah, ISBN serta cetak secara POD (Print On Demant)

Hanya saja jika anda tidak cermat dalam memilih bisa jadi anda justru mengalami kekecewaan. Bisa jadi kecewa dengan pelayanan yang kurang ramah, hasil cetakan yang kurang tajam, terlalu mahal, mahal di ongkos kirim dan lainnya.

Nah, jika anda memang berniat untuk menerbitkan buku secara indie sebaiknya memilih jasa penerbitan dengan cermat, misalnya menerapkan beberapa kriteria :

Sebaiknya cermat dalam memilih dengan membandingkan setiap penerbitan yang bisa anda lihat melalui website mereka. Sesuaikan dengan budget yang anda miliki. Karena meskipun menggunakan layanan self publishing yang menawarkan layanan gratis namun pada akhirnya anda akan tetap mengeluarkan biaya. Terutama untuk desain, kecuali anda benar-benar merasa tenang-tenang saja tidak membayar biaya desain yang dilakukan teman anda misalnya.
Sesuaikan dengan lokasi anda dan penerbitan itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan biaya ongkos kirim. Jika anda di Surabaya maka anda bisa menggunakan nulisbuku.com yang berada di sana. Jika anda di Yogyakarta sebaiknya mencari jasa penerbitan indie yang ada di Yogyakarta.
Selain itu anda juga sebaiknya mencari tahu kira-kira penerbitan mana yang sudah melakukan penipuan terhadap konsumen mereka. Karena tidak sedikit 'oknum' penerbitan yang kemudian selain 'menggondol' naskah akhirnya juga membawa pergia uang yang awalnya akan digunakan untuk mencetak buku.

Akhirnya, anda sendirilah yang akan menentukan bagaimana buku anda akan diterbitkan, menggunakan ISBN atau tidak dan lainnya. Untuk ISBN sebenarnya tidak terlalu penting kecuali jika anda ingin masuk toko buku besar. Jika hanya ingin dipublikasikan sendiri maka ISBN bisa diurus belakangan sehingga anda tidak perlu khawatir.

Namun intinya, adanya jasa penerbitan buku indie saat ini sebenarnya sangat membantu para penulis yang ingn mengembangkan bakat menulis dan juga berwirausaha. Karena penulis indie pada akhirnya harus menawarkan bukunya sendiri agar sampai di pasaran dan dibeli oleh para pembacanya.

Terima Kasih telah membaca Tips Penerbita
Posted by Mafaza Media in | 07.25 2 comments


Bagaimanakah bahasa penulisan Anda? Apakah kreatif atau tidak kreatif?
Banyak orang mengagumi gaya bahasa Andrea Hirata karena penulisannya yang kreatif. Andrea bisa begitu karena memang didalam dirinya telah mengalir energi seni, yakni kepiawaian merangkai kata yang dapat menimbulkan rasa senang dan rasa nikmat pada diri pembacanya. Postingan kali ini akan membahas tentang Cara Menciptakan Tulisan Yang Kreatif.

Kepiawaiannya merangkai kata seperti seorang pelukis profesional yang mampu menggambarkan keindahan ciptaan dengan tangannya yang lentur mengayun-ayunkan kuas di atas kanfas. Itulah daya tarik Andrea, ia mampu menghipnotis pembaca dengan bahasa kreatif sehingga banyak bukunya laris manis di pasaran.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki kemampuan menulis bahasa yang elok-kreatif?
Walaupun Anda belum memiliki kemampuan membuat gaya bahasa yang kreatif, itu bukan masalah jika Anda mau-bersedia berlatih. Intinya ada pada mengalami yang ujungnya nanti disebut peng-alam-an. Bila Anda rajin berlatih maka Anda akan menguasai dan melahirkan bahasa yang lebih baik dan lebih kreatif.

Baik, sekarang saya kasih contoh perbedaan penulisan tidak kreatif dan penulisan kreatif dibawah ini:
–> Penulisan tidak kreatif: Bulan nampak putih bulat dilangit. Disekitarnya ada awan tipis tampak mengitarinya.
–> Penulisan kreatif: Sinar rembulan menguak dari balik awan tipis. Cahayanya perlahan menembus dedaunan pohon cemara dimana aku dan kekasih hati duduk bercengkrama. Tetes embun malam mulai melangkah turun perlahan jatuh membelai rambut dan kulit wajah dan tanganku.

Hmmmm…… apakah penulisannya terlihat berbedaaa….? Mana yang kreatif dan mana yang tidak kreatif?
Sebenarnya contoh penulisan kreatif diatas adalah untuk tulisan fiksi, namun sebenarnya juga bisa digunakan untuk penulisan lainnya kecuali penulisan ilmiah.
Beberapa tips agar penulisan Anda menjadi kreatif adalah sebagai berikut:
  • Milikilah daya imajinasi yang kreatif. Sambil menulis, cobalah membayangkan kata yang cocok untuk suatu benda, kejadian, atau fenomena. Misalnya: Bulan -> rembulan,    merah + merekah,      luar biasa + dahsyat,  … dll.
  • Kuasailah bahasa yang kreatif. Bahasa yang kreatif juga sangat perlu anda kuasai. Penulisan kreatif memerlukan penguasaan bahasa yang baik kerana ia akan membantu anda menghasilkan karya yang baik. Cara terbaik untuk menguasai bahasa kreatif adalah dengan banyak mengamati padanan kata atau sinonim dalam kamus bahasa.
  • Hanya saja tulisan tidak boleh dipoles terlalu belebihan alias lebay namun kreasikanlah ia dengan secukupnya saja.
Ingat!!! Penilaian sebuah tulisan bukan saja terletak pada cerita, plot, tema (kalo dalam fiksi), isi, sumber rujukan, dan sebagainya tetapi penguasaan bahasa juga penting. Bila penulisannya kreatif, maka akan dapat menimbulkan minat baca yang lebih tinggi ketimbang penulisan yang tidak kreatif.

Penulisan yang kreatif membuat orang senang dan bahagia membacanya sedangkan penulisan yang tidak kreatif menimbulkan kebosanan dan kejauhan pembaca. Teknik penulisan kreatif dan yang tidak kreatif mempunyai perbedaan yang dapat dirasakan efeknya.

Penulis kreatif bukan bermaksud merusak bahasa dengan meliak-liukkan kata tetapi bahasa akan menjadi lebih indah kerana kreatifitas seorang penulis untuk menggambar sesuatu yang berbeda dengan penulis yang tidak kreatif berhahasa.

Yups… sekian dulu tips cara menulis hari ini. Terima kasih telah membaca Cara Menciptakan Tulisan Kreatif. Silakan berbagi pengalaman pada kolom komentar dibawah, ya….

Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter